Napak Tilas Islam di Wonogiri

Wonogiri adalah salah satu kabupaten di daerah provinsi Jawa Tengah. Sekarang kita akan membahas peninggalan islam di Wonogiri. Inilah ulasannya:

Hasil gambar untuk wonogiri

Berbicara tentang Walisongo atau Sembilan Wali, tentunya tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam di Tanah Air, khususnya pulau Jawa. Sebab, Walisongo memang bertugas menyebarkan sekaligus mengembangkan Islam di pulau Jawa. Bukti dari sepak terjang Walisongo tersebut, masih bisa disaksikan hingga saat ini, mulai dari masjid, makam, hingga petilasan lainnya.

Salah satunya di Dusun Wonokerso, Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno, Wonogiri. Bukti tersebut berwujud masjid tiban bernama Masjid Taqwa, penduduk sekitar menyebutnya sebagai Masjid Tiban Wonokerso.

Masjid Tiban Wonokerso. Pusat Islam Pertama di Wonogiri

Hasil gambar untuk MASJID TIBAN wonogiri

Pemerintah melalui Dinas Purbakala, sejak tahun 2002 memutuskan Masjid Tiban Wonokerso Desa Sendangrejo Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri, sebagai bangunan bersejarah. Keberadaannya diproteksi dengan Undang-undang (UU) Kepurbakalaan nomor: 5 tahun 1992, dan dalam pengawasan Dirjen Kebudayaan Direktorat Perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Indonesia.

Hasil gambar untuk MASJID TIBAN wonogiri

Masjid Tiban, menjadi bangunan masjid tertua di Kabupaten Wonogiri. Letaknya sekitar 40 kilometer arah selatan ibukota Kabupaten Wonogiri. Masjid yang didirikan para wali ini, keberadaannya diyakini lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Demak. Sebab, lebih  dulu ada sebelum masjid legendaris karya para wali di Demak dibangun.

Hasil gambar untuk MASJID TIBAN wonogiri

Konon, Masjid Tiban Wonokerso, dijadikan maket sebelum menentukan bentuk, wujud, dan prototipe bangunan Majid Agung Demak. Dalam buku Sekitar Wali Sanga, karya Solichin Salam (penerbit Menara Kudus), ada beberapa versi tentang tanggal dan tahun pendirian Masjid Demak. Ada yang menyakini dibangun Kamis Kliwon malam Jumat Legi tanggal 1 Dulqoidah tahun Jawa 1428.

Versi lain menyebutkan, dibangun tahun Saka 1388 sesuai dengan candrasengkala ‘Naga Salira Wani’, serta sesuai gambar petir di pintu tengahnya. Pendapat lain menyebutkan, itu didirikan pada tahun Saka 1410, berdasarkan gambar bulus di dalam masjid.

Hasil gambar untuk masjid demak

Jauh waktu sebelum pendirian Masjid Demak, Masjid Tiban Wonokerso telah lebih dulu ada. Menurut legenda, masjid itu ditemukan pertama kali oleh Ki Ageng Tugu (Tuhu) Wono, tatkala membuka rimba di wilayah Sembuyan (Wonogiri selatan), untuk dijadikan tanah perdikan.

Waktu itu, Kiai Ageng Tuhu Wono, dibantu Kia Ageng Serang dan Kiai Gozali, beserta para pengikutnya. Betapa takjub, ketika membuka rimba Sembuyan, ditemukan masjid model rumah panggung terbuat dari kayu jati. Penemuan yang tiba-tiba ini, menjadikan masjid itu kemudian dinamakan Masjid Tiban (tiba-tiba ada).

Hasil gambar untuk MASJID TIBAN wonogiri

Pembangun Masjid

Siapa yang membangun? Menurut legenda, itu dibangun oleh para wali, tatkala mengembara dalam rangka melaksanakan tugas Raja Demak Bintoro, untuk mencari kayu jati pilihan sebagai bahan baku saka guru (tiang induk) Masjid Agung Demak. Konon, para wali singgah di rimba Sembuyan dan sempat membuat masjid itu.

Hasil gambar untuk wali songo

Namun ketika di rimba Sembuyan tak ditemukan kayu jati pilihan, para wali meneruskan perjalanannya menuju ke wilayah Keduwang dan menemukan hutan jati Donoloyo, yang pohonnya dinilai layak dipakai untuk membangun masjid Demak. Sejak ditinggalkan, lambat laun masjid tiban ditelan rimba Sembuyan, dan baru ditemukan lagi oleh Ki Ageng Tuhu Wono.

Gambar terkait

Dalam perkembangannya, Keraton Surakarta ikut memperhatikan keberadaan Masjid Tiban. Raja Paku Buwono, menugasi ulama Imam Muhamad untuk mengurus Masjid Tiban dan sekaligus menjadi imam. Dulu, keraton peduli memberikan bantuan dana pembelian minyak tanah untuk lampu penerangan masjid, dan membebaskan warga ‘mutihan’ (Islam) setempat dari pungutan pajak. Mencermati keberadaannya, Masjid Tiban diyakini sebagai pusat  penyebaran Islam pertama di Wonogiri.

Hasil gambar untuk keraton surakarta

Berbicara masjid, masjid yang pertama kali dibangun di dunia adalah Masjidil Haram. Dibangun oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar, pada sekitar 4.515 tahun yang lampau. Masjid kedua, adalah Masjidil Aqsa (Palestina), dibangun oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Masjid ketiga, Masjid Quba’ dibangun Rasulullah Muhamad SAW, bersama para pengikutnya saat hijrah ke Yatsrib (Madinah). Setelah itu, menyusul dibangun Masjid Nabawiy. Pendirian masjid, kemudian banyak bermunculan di berbagai tempat, menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.

Jejak Sunan Giri di Wonogiri

Tak banyak orang mengetahui, Wonogiri sebenarnya menjadi rute penyebaran Agama Islam di pulau Jawa. Saat itu penyebaran agama dilakukan oleh wali songo. Jejak rute wali songo dalam menyebarkan agama juga melintas di Wonogiri, yakni Sunan Giri atau dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Giri yang makamnya diketahui berada di Gresik, Jawa Timur.

Hasil gambar untuk sunan giri

Jejak perjuangan Sunan Gunung Giri itu bisa dilihat dari keberadaan petilasan yang berada di Lingkungan Seneng, Kelurahan Giriwono, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri. Lokasi petilasan masuk dalam kompleks permakaman keluarga besar Raja Mangkunegara, Solo. Petilasan Sunan Gunung Giri yang berupa batu besar itu disendirikan dan dibuat rumah dengan pintu masuk yang dikunci. Karenanya, petilasan itu ada juru kunci yang sudah turun-temurun.

Hasil gambar untuk Jejak Sunan Giri di Wonogiri

Hasil gambar untuk PETILASAN SUNAN GIRI di Wonogiri

Mulai dari juru kunci Mbah Kartosentono mewariskan kepada Mbah Sutotaruna dan sekarang juru kunci petilasan itu dipegang oleh generasi ketiganya, Suwar, 72. Di sekitar bangunan petilasan terdapat makam orang lain. Ada juga makam pejuang kemerdekaan karena di atas nisan terdapat bambu runcing dan bendera merah putih. Di sekeliling permakaman tumbuh pohon jati dengan diameter lebih dari satu meter.

“Cerita dari juru kunci lama, petilasan Gunung Giri ini merupakan petilasan sunan yang dimakamkan di Gresik,” ujar juru kunci petilasan, Suwar.

Karena letaknya yang berada di bukit, lokasi itu diberi nama Gunung Giri sesuai dengan keberadaan sunan yang datang ke lokasi tersebut. Petilasan Sunan Gunung Giri berupa batu yang diyakini tempat salat sunan saat itu. Suwar menjelaskan, petilasan yang ada di ruangan adalah sebuah batu yang konon dipercaya sebagai tempat salat Sunan Gunung Giri karena terdapat telapak kaki.

Hasil gambar untuk PETILASAN SUNAN GIRI di Wonogiri

Suwar menyatakan, keberadaan petilasan Gunung Giri tak terlepas dari perilaku tirakat Sunang Giri ketika diutus mencari tiang penyangga pembangunan masjid Demak. “Waktu Sunan Giri menggembara sampai hutan Donoloyo, Slogohimo bertemu dengan pemilik hutan kala itu yakni Kiai Donosari dan singgah di Gunung Giri untuk beribadah.”

Informasi lain yang berkembang, Sunan Gunung Giri singgah di bukit itu karena sembari menunggu kayu jati yang dialirkan dari Sungai Keduwang yang mengalir hingga Sungai Bengawan Solo menuju Kerajaan Demak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *