Masjid Tengku di Anjong, tempat bersumpah Teuku Umar

Pernahkah Anda ke daerah Gampong Peulanggahan di Kecamatan Kutaraja? Menurut wawancara singkat dengan warga setempat, Kawasan ini merupakan lokasi Istana Raja dan Pelabuhan Internasional, dimana pada 1926 Istana dipindahkan dari Gampong Pandee ke Daruddunia, lokasi keratin sekarang, atau 6 km dari Muara Krueng Aceh) karena gelombang laut. Pada Desember 2004 lalu atau tepatnya pada bencana Gempa Bumi dan Tsunami 26 Desember lalu, gelombang juga pecah atau terhenti di lokasi ini.

Baca Juga : 10 Wisata Religi Aceh yang wajib dikunjungi

 

masjid-di-anjongherju

Masjid Teungku di Anjong, Banda Aceh HARI sedang beranjak siang manakala ATJEHPOSTcom berkunjung ke sana. Suasana tetap lengang, walaupun beberapa pekerja sibuk mengecat jendela di atap masjid.
Memasuki pekarangan masjid suasana teduh terasa benar. Sebatang pohon angsana berdiri kokoh meneduhi bagian kiri masjid dari teriknya matahari. Di bawahnya komplek makam berjejer rapi. Salah satunya adalah makam Tengku di Anjong yang bersisian langsung di sebelah kiri masjid.
Di sebelah kanannya, tempat wudhu perempuan dan lelaki terawat bersih, diapit oleh sebuah taman kecil yang ditanami aneka tanaman bunga. Di depannya terdapat dua buah tugu. Satu tugu mengenang tsunami, satunya lagi tugu nama masjid yang di dalamnya terdapat tulisan dalam tiga bahasa (Aceh, Indonesia dan Inggris):
“Meuseujid nyoe geupeudong bak abad XVIII le Sayyid Abu Bakar bin Husein Bafaqih, sidroe ulama dari nanggroe Arab nyang jak ba dakwah Islam rata teumpat. Teungku Dianjong geukira seubagoe ureueng keuramat, lom ngon geuboh lakab Teungku Dianjong.”
Kedua tugu tersebut berdiri berdampingan. Seperti dua penjaga atau guide yang dengan tulisan di atasnya menjelaskan secara singkat tentang keberadaan masjid bagi setiap pengunjungnya.
Masjid yang dindingnya berwarna putih dengan kombinasi genteng dan jendela berwarna hijau adalah salah satu masjid tua yang memiliki nilai sejarah tinggi. Masjid Tengku di Anjong namanya.
Terletak tidak jauh dari pusat kota Banda Aceh, tepatnya di Gampong Peulanggahan Kecamtan Kutaradja, masjid ini telah berdiri sejak abad XVIII. Sayyid Abu Bakar bin Husein Bafaqih yang oleh penduduk setempat dikenal dengan nama Tengku di Anjong adalah tokoh sentral pembangunan masjid ini. Dalam keterangan sejarah, ia merupakan seorang ulama Timur Tengah yang hijrah ke kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1760 – 1791) untuk mengembangkan ajaran Islam.
Rizal, Kepala Urusan Pemerintahan Gampong Peulanggahan, saat ditemui ATJEHPOSTcom di kantor Geuchik yang terletak di sudut kiri pekarangan masjid, menuturkan bahwa menurut cerita turun temurun, Tengku di Anjong merupakan saudagar berbangsa Arab yang pada mulanya berkunjung ke Aceh untuk berdagang. “Ada beberapa versi cerita tentang awal mula kedatangan Tengku di Anjong ke sini. Ada yang menyebutkan beliau datang khusus untuk berdakwah, tapi ada juga yang mengatakan untuk berdagang sambil berdakwah,” kata Rizal.

Ketika ditanya tentang sejarah masjid secara mendalam, Rizal hanya memberikan dua lembar file catatan tentangnya. “Tidak ada tulisan khusus tentang sejarah masjid ini. Kalaupun ada, itu masih minim sekali. Ini contohnya,” katanya sambil menyodorkan file yang dimaksud.
Dalam file tersebut diterangkan, Masjid Tengku di Anjong pertama sekali didirikan di atas pondasi yang berdenah bujur sangkar dengan ukuran 14,80 x 9,20 m dengan tinggi 16 meter. Selain itu terdapat juga ruang berukuran 166 x 166 centimeter dan tingginya 177 centimeter, yang digunakan sebagai mihrab yaitu tempat imam memimpin shalat berjama’ah.
Sesuai dengan keterangan dari file catatannya juga, masjid ini telah mengalami pemugaran pada tahun 1990 yang dibiayai oleh Pemerintah Kota Banda Aceh. Karena perluasan pembangunan baru pada sisi dindingnya menyimpang dari bentuk semula akhirnya pembangunan tersebut akhirnya dihentikan.
“Sebelum tsunami melanda, masjid ini telah dipugar beberapa kali. Bahkan beberapa hari sebelum datangnya tsunami, masjid ini sedang dalam perbaikan-perbaikan,” kata Rizal. “Setelah tsunami datang, masjid ini hanya tinggal 30% saja. Itu adalah pondasi mihrabnya saja. Sedangkan bangunannya yang terbuat dari kayu semuanya hancur. Kemudian masjid ini dibangun kembali seperti yang terlihat sekarang ini.”
Sementara dalam catatan keterangan yang ada dijelaskan pemugaran masjid Tengku di Anjong setelah bencana tsunami telah banyak merubah bentuk asli bangunan masjid itu. Sayangnya, dalam keterangan tersebut tidak diketahui bentuk asli mana saja yang telah berubah dari masjid itu. Rizal, tidak bisa memberikan keterangan yang jelas ketika ATJEHPOSTcom menanyakan tentang masalah ini. Ia hanya menjelaskan bahwa bangunan sekarang berdiri di atas pondasi lama, dan pondasi mihrab yang tinggal setelah tsunami masih dipertahankan sebagaimana mulanya.
Dia menceritakan masjid Tengku di Anjong, sebagaimana yang tertera dalam catatan, pernah menjadi tempat “bersumpah” Teuku Umar ketika memihak pada Belanda di masa penjajahan. Masjid ini, kata dia, pernah juga menjadi tempat persinggahan para jama’ah haji untuk menunggu keberangkatan mereka ke tanah suci. “Pada masa persinggahan inilah banyak jama’ah haji yang bermanasik di masjid ini dan mengaji pada Tengku di Anjong,” kata Rizal mengutip.
Lebih lanjut ia mengungkapkan masjid Tengku di Anjong memiliki tanah wakaf. “Hampir 70 persen Gampong Peulanggahan adalah tanah wakaf masjid. Bahkan di Keuniree Kabupaten Pidie juga terdapat masjid dengan nama yang sama dan memiliki tanah wakafnya juga, masjid itu juga berhubungan dengan masjid Tengku di Anjong di sini,” kata Rizal.
Seorang warga Gampong Peulanggahan yang tidak mau namanya ditulis membenarkan tanah wakaf tersebut.
“Saya warga yang hidup lama di sini dan salah satu yang selamat dari tsunami. Peulanggahan sebagian besarnya adalah tanah wakaf masjid. Semua yang lahir dan besar di sini saya kira tahu, walau pun ada juga di antaranya yang tidak mau mengakui,” katanya.
Tentang kegiatan masjid sekarang, dia mengatakan tiap Sabtu malam dan Rabu malam, ada pengajian bagi warga setempat, di samping ada juga pengajian bagi ibu-ibu warga Peulanggahan di siang hari.

Apa yang menarik di kawasan ini? Ada sebuah komplek warisan yang sebenarnya patut kita lestarikan. Komplek itu terdiri dari sebuah Masjid tua berikut Makam dari sang tokoh. Sayyid Abubakar bin Husen Bafaqih, beliau merupakan seorang ulama dari negeri Arab yang mengembara untuk mendakwahkan Islam, Oleh sebab itulah beliau mendapatkan gelar Teungku di Anjong dan dianggap sebagai Orang Keramat. Begitulah kira-kira pesan yang tertulis di prasasti yang terdapat di depan bangunan makam beliau. Beliaulah yang mendirikan Masjid Tengku di Anjong ini pada abad ke 18, dan disebelah kiri Masjid tersebut, terdapat bangunan Makam beliau dan juga istrinya.

Bangunan Masjid ini dulunya adalah sebuah Masjid yang bermaterial Kayu, namun seiring dengan perkembangan zaman, sekiranya material-material kayu tersebut dirasa sudah tidak layak lagi untuk menopang bangunan Masjid tersebut sehingga pada 2009 lalu telah resmi ‘menjelma’ menjadi bangunan Masjid baru yang bermaterial bata. Ironis memang, tapi renovasi ini lebih baik bukan? Pastinya renovasi ini jauh lebih baik daripada membiarkan bangunan bersejarah ini hancur dan roboh. Satu hal yang dipertahankan dari renovasi ini yaitu bentuk asli masjid yang tidak berubah walaupun telah berganti material. Ya, bentuk khas ala masjid-masjid Jawa dengan bentuk atap yang bertingkat-tingkat ini masih tetap dipertahankan pada renovasi Masjid ini.

Dominasi warna putih yang digunakan untuk Masjid ini ditambah dengan kombinasi hijau yang digunakan untuk warna atap dan kusen serta jendelanya membuat Masjid ini jadi terasa seperti masjid yang benar-benar baru. Padahal kita tau kalau masjid ini sejatinya dibangun pada abad ke 18. Satu-satunya kesan antik yang ditimbulkan dari komplek ini hanya bangunan makam dan juga pemakaman yang ada di komplek tersebut.

“Bangunan Makam yang berada tepat disamping Masjid”

“Pemakaman yang berada di kompleks Masjid”

Balutan batu alam juga menghiasi kolom-kolom teras di Masjid ini, Kolom-kolom putih yang ada pada bagian dalam Masjid ini tampak begitu kokoh dengan tambahan-tambahan ornament khas yang ada pada bagian bawahnya. Menurut saya, kolom ini juga baru karena kolom yang lama pastilah terbuat dari kayu. Tapi narasumber yang saya wawancara juga kurang mengetahui jelasnya proses perubahan masjid ini. Pada bagian dalam mesjid, pada bagian kiri dan kanannya sedikit rendah karena plafon yang miring,

Sebenarnya ingin saya melihat bangunan asli dari masjid ini, bangunan yang masih bermaterial kayu yang menutupi seluruh bangunan ini, hanya sebagai perbandingan dari 2 masa berbeda yang pernah ditempuh dari masjid ini. Sebuah saksi sejarah pada masa berkembangnya Islam di bumi Serambi Mekkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *